3 Kisah Tragis Dibalik Lucunya Film Kartun Yang Sangat Kelam!

Hari minggu ialah hari di mana anak-anak pada kala itu menunggu berbagai macam hiburan kartun yang di tayangkan mulai jam 6 pagi sampai jam 12 siang. Beberapa stasiun tv seperti Indosiar, RCTI, Global TV menayangkan hiburan serial kartun yang selalu diikuti oleh anak- anak hingga remaja.

Masing – masing stasiun tv menayangkan jenis kartun yang berbeda – beda, misalnya RCTI yang lebih banyak menayangkan film kartun yang berasal dari negara jepang seperti Doraemon, Krayon sinchan, ninja hatori dan lain sebagainya begitu juga Indosiar. Sedangkan global tv pada kala itu lebih banyak menayangkan kartun yang di produksi oleh USA maupun Eropa.

Beberapa di antara kartun tersebut perlu anda ketahui ternyata terinspirasi atau di ambil dari kisah nyata oleh penulis ceritanya, mungkin anda termasuk salah satu penikmat seri kartun pada masa itu yang sampai sekarang mungkin juga belum mengetahui ada kisah tragis di balik seri kartun yang anda tonton.

Berikut ini merupakan list dari beberapa seri kartun yang di ambil dari kisah tragis di kehidupan nyata.

 1. “Phineas dan Ferb” dari catatan harian seorang Remaja

Film kartun yang di produksi oleh Disney Studio tersebut pernah di tayangkan di salah satu stasiun TV lokal. Kisah Phineas dan Ferb yang berimajinasi dan membayangkan hal – hal yang menghibur mereka.

Bahkan mereka sampai membayangkan memainkan roller coster ataupun berimajinasi seolah – olah lagi berpetualang di hutan pada halaman belakang rumah. Candace yang merupakan kakak dari Phineas ternyata yang bisa membayangkan dunia fantasi yang sama seperti adiknya.  

Ibu dari Candace pun menyadari ternyata anaknya terbawa imajinasi yang cukup jauh.

Berawal dari kesedihan seorang Candace yang menulis catatan harian sebagai suatu kisah. Dia bersedih karena adiknya yaitu Phineas yang pada masa itu dibully oleh teman-tema sebayanya karena mempunyai kelainan mental

Hingga suatu saat terjadi pemukulan dari anak yang membully Phineas hingga dia pun meninggal. Pada saat itu Candace sangat bersedih ketika mengetahui adiknya telah meninggal.

Dari situlah Si Candace mulai menulis catatan harian yang berimajinasi tentang adiknya dan dunia fantasi mereka. Ferb, yang merupakan adik tiri dari Candace ikut juga dibawa ke dalam dunia fantasy mereka.

Ternyata si Ferb ini juga mempunyai disabilitas dan kesulitan untuk berkomunikasi.

Dalam film Seri tersebut, Ibu dari Candace tidak bisa melihat apa yang di bayangkan oleh Phineas dan Ferb. Namun di dalam dunia nyata, Candace pun juga menderita penyakit Schizophernia, hal tersebut membuat Ibunya mewajarkan kalau Candice itu hanya berhalunisinasi sebagai anak kecil.

Tokoh antargonis dalam di Seri kartun itu, yakni Dr. Doofenshmirtz yang ternyata adalah psikolog dari seorang Candace. Secara rutin 2 kali dalam seminggu Candace ibunya mengantar dia bertemu Psikolog.

Bukannya membaik tetapi Candace justru mengalami efek samping obat-obatan tersebut yang membuat halusinasinya semakin jauh dan memburuk. Ia kerap mengalami depresi dan sangat tersiksa setiap harinya yang pada akhirnya membuat dia mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri.

Ibu dari Candace pung tanpa sengaja memasuki kamar Candace dan akhirnya menemukan buku harian Si Candace. Catatan harian Si Candace ini menceritakan khayalan Candace tentang kedua adiknya yaitu Phineas dan Ferb.

Demi mengenang Candace, Ibunya membawa catatan harian tersebut ke Disney Studio yang kemudian diangkat menjadi Serial kartun “Phineas and Ferb”.

2. “Marsha and The Bear”  Kecintaan Marhsa pada seekor beruang yang membunuhnya

Serial Kartun ini cukup terkenal di Indonesia terutama pada kalangan anak – anak di bawah 12 tahun, Seri ini ternyata terinspirasi dari sebuah kisah nyata tragis dari seorang anak perempuan bernama Marsha.

Jadi Marsha ini sebenarnya tokoh nyata dalam seri kartun itu. Berawal dari si Marsha yang pergi menyaksikan sebuah pertunjukan sirkus dengan kedua  orang tuanya. Marsha pada saat itu berusia dan dia sangat cinta terhadap pertunjukan sirkus.

Pada saat pertunjukan, Marsha pun tidak diperhatikan oleh orang tuanya.  Akibatnya si Marsha ini justru pergi ke kandang beruang.

Beruang tersebut lepas kendali dan akhirnya malah langsung memakan Marsha hidup – hidup. Orang tuanya pun kaget atas tragedy itu kedua orang tuanya pun sungguh menyesal kemudian mengalami depresi berat dan pada akhirnya memutuskan untuk bunuh diri.

Di film kartun tersebut Orang tua dari Masha tidak pernah terlihat, malah si beruang yang sering ditampilkan yang secara khusus di tunjukan untuk mengenang Marsha yang sangat suka terhadap beruang.

Beruang dalam film tersebut justru sering di buat takut dan kalah dengan sosok Marsha.

Tokoh  Panda yang ada di film tersebut terinspirasi dari sosok saudara jauh Marsha yang berasal dari China. Diceritakan Masha dan saudaranya selalu berselisih dan bertentangan dalam berbagai hal.

Sedangkan Penguin yang terinspirasi dari sosok saudara kandung Masha yang sampai sekarang, masih hidup. Dia juga berkontribusi yang dalam membuat konsep dan alur cerita dari “Marsha and The Bear”.

3. “The Rugrats “ yang merupakan hasil Imajinasi Angelica

Serial yang menceritakan kehidupan dan petualangan dari perspektif bayi memang cukup unik dan sangat menghibur pada kalangan anak – anak. Rugrats ini ternyata hanya merupakan hasil imajinasi dari Angelica

Semua kisah dan konsep cerita tertuang dalam “The Rugrats Theory”. Yang bermula bahwa setiap tokoh bayi yang ada merupakan  khayalan dari Angelica. Seorang anak bernama Chuckie telah meninggal pada tahun 1997 bersama ibunya, maka dari itu dalam kartun tersebut wajah dari Ayahnya Chucky selalu terlihat sedih dan murung.

Kedua anak kembar Phil dan Lill juga berasal dari orang tua mereka yang mengalami keguguran, Angelica pun membayangkan ada bayi kembar namun ia tidak mengetahui  jenis kelamin karena kisah aborsi tersebut.

Sedangkan Bayi Tommy justru meninggal pasca dilahirkan. Tragedi tersebut mengakibatkan kedua orang tua Tommy lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk membuat mainan anak – anak yang memberi hiburan kepada anak lain yang hampir bernasib seperti Tommy.