Air Susu Dibalas Air Tuba! Potret Penduduk Timor Leste Pilih Indonesia Lalu Diabaikan

257

Siapa sangka jika perpisahan NKRI dengan Timor Leste nyatanya juga disesalkan banyak orang disana. Perlu kalian semua tahu, dulu di masa pergolakan sebelum perpisahan. ada orang-orang disana yang getol menyuarakan persatuan dua negara ini, namanya adalah Batalion Milisi Aitarak.

Mereka berjuang bersama TNI untuk mempertahankan wilayah beribu kota Dili itu untuk tetap dipangkuan ibu pertiwi. Sayangnya, pada akhirnya usaha ini gagal dan membuat orang-orang Milisi Aitarak pun melakukan eksodus ke Indonesia.

Mereka ini orang-orang asli Timor Timur yang sangat cinta Indonesia. Sehingga apapun yang terjadi, ke Indonesia-lah mereka akan pulang. Sayangnya, usaha besar mereka yang ingin mempersatukan Indonesia dengan Timtim tak pernah dipandang sebagai sesuatu yang penting bagi pemerintah Indonesia.

Hari ini, orang-orang berdarah Timor Lesta tapi memilih NKRI harus merasakan pahitnya hidup di Indonesia. Beberapa diantara mereka sempat menyesal kenapa dulunya memilih Indonesia kalau ternyata akan seperti ini kehidupannya sekarang. Namun para pejuang itu pada akhirnya tak lagi peduli. Kondisi boleh miris, asal tumpah darah masih Indonesia.

Tersebutlah pria bernama Jose Ximenes Siquera Da Costa yang merupakan salah seorang anggota Milisi Aitarak yang kini tinggal di Indonesia. Dari dulu Jose dan teman-temannya yang lain memang tak pernah setuju kalau Timtim lepas dari Indonesia dengan berbagai alasan.

Tergerak hatinya akan semangat persatuan, ia pun aktif dan getol sekali menyuarakan anti perpisahan. Aksi Jose lalu menuai banyak kecaman terutama dari orang-orang yang pro Timtim berpisah dari Indonesia. Jose dan teman-temannya dianggap duri dalam daging karena ketidaksenangannya Timtim ingin pisah dari NKRI.

Nyawanya pun juga sempat diincar oleh banyak pihak yang pro akan kemerdekaan Timtim. Pada prosesnya, Jose yang begitu dimusuhi bahkan sampai diincar akan dibunuh akhirnya tak punya pilihan lain selain pergi ke Indonesia setelah Timtim resmi berpisah dari NKRI.

Kecintaannya terhadap Ibu Pertiwi melebihi rasa sayangnya kepada kampung halaman. Beserta istri dan anak serta para teman-teman seperjuangan, Jose lalu hengkang ke Indonesia dengan menempati wilayah perbatasan di NTT. Kenyataan pahit lalu diterima Jose karena ternyata sebagian besar keluarganya memilih menetap di Timor Leste.

Berat rasanya hidup Jose harus terpisah dari keluarga besar meskipun masih ada anak dan istri. Tapi Jose tak bergeming, ia mengabaikan semua itu atas dasar cinta kepada Indonesia.

Namun, setelah memutuskan memilih Indonesia, ternyata kisah tragis yang dialami Jose dan keluarga kecilnya tidaklah seindah yang dibayangkan. Cinta Indonesia tak berarti bahagia, bisa jadi itulah ungkapan paling tepat untuk kehidupan Jose saat ini.

Ketika ia dan teman-temannya memilih Indonesia, seharusnya mereka mendapatkan kehidupan yang layak, tapi pada kenyataannya tidaklah demikian. Jose dan sebagian eks Timor Leste lainnya tinggal di tanah pinjaman dengan bangunan seadanya. Hidupnya pun juga tak benar-benar baik.

Dalam kondisi seperti ini apalagi jika melihat keadaan anak dan istrinya, Jose mengakui bahwa dirinya sempat beberapa kali kepikiran ingin pulang saja ke keluarganya di Timor Leste. Jose sempat tinggal disana beberapa minggu, namun setelah itu ia memutuskan kembali.

Ketika kembali menginjak Indonesia, Jose mengatakan bahwa 'Saya terlalu sayang merah putih'. Saya tidak menyesal memilih NKRI walaupun sengsara begini. Kalau menyesal, saya sudah selamanya pulang ke Timor Leste.'

Pulang ke Timor Leste sebenarnya sangat mungkin bisa jadi solusi untuk hidup yang lebi baik bagi Jose dan teman-temannya. Namun di sisi lain, mereka juga tidak akan pernah mudah untuk hidup di sana. Pasalnya, sebagian orang disana masih ingat betul cerita pengkhianatan Jose yang begitu getol menolak perpisahan Indonesia-Timtim.

Jose dan beberapa teman eks Timor Leste lainnya masih tinggal di tanah pinjaman dengan bangunan seadanya. Artinya, mereka tak punya hak sejengkal pun atas tanah yang didiaminya. Hal ini membuat posisi mereka serba sulit dan serba ketidakpastian. Bisa saja karena satu dan lain hal, orang yang punya tanah mengusir Jose dan teman-temannya.


Selain hidup dalam ketidakpastian, Jose juga harus bertahan dengan minimnya fasilitas penting seperti air dan listrik. Di beberapa perkampungan eks Timor Leste di perbatasan NTT hingga saat ini belum ada listriknya. Air pun demikian, beberapa sumur juga kering. Seorang teman Jose pun berharap pemerintah Indonesia mau membantu mereka, "Listrik dan air bersih saja, cukup itu, tidak lebih.'

Berkaca dari jasa dan semangat kecintaan Jose dan kawan-kawan kepada tanah air Indonesia, maka sepatutnya Pemerintah lebih bisa memperhatikan dan mengapresiasi orang-orang seperti mereka. Ya, Jose dan teman-temannya sudah rela dimusuhi kaumnya sendiri bahkan ditinggal keluarga besarnya, hanya demi Merah Putih.

[zombify_post]

Previous article5 Film terbaik yang diadaptasi dari Novel Stephen King
Next articleBukan Main! Dibekali Teknologi Tercanggih, 4 Hotel Ini Jadi Yang Termegah Di Dunia