Cerita Perjalanan Karierku Jadi Guru SDI ; Awalnya Hanya Iseng Sampai Akhirnya Jatuh Cinta!

91

Halo, perkenalkan namaku Yuni Ismawati, usia 28 tahun dan bekerja di lembaga pendidikan Sekolah Dasar Islam atau SDI. Jika mengingat perjalanan karier ku sampai sekarang, memang terasa aneh.

Pada tahun 2014 aku menyelesaikan pendidikan dari perguruan tinggi. Tidak seperti yang kalian bayangkan, aku kuliah di Fakultas Tehnik jurusan Sistem Informasi. Sangat melenceng jauh dari pekerjaanku sekarang ini sebagai guru. Sama seperti semua orang, mencari pekerjaan setelah lulus kuliah tidak semudah membalikkan tangan. Sudah banyak lembaga pendidikan dan beberapa Perusahaan yang aku datangi mengajukan lamaran, tapi satupun tidak ada yang terpanggil.

Setelah lulus kuliah, aku sempat bekerja di counter data di Malang, tapi itu juga tidak lama. Setelah itu aku mulai menganggur dan memutuskan pergi merantau ke luar pulau jawa tahun 2015. Mungkin karena belum rezekinya, aku masih belum mendapatkan pekerjaan dan akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke jawa.

Awal tahun 2016, setelah pulang merantau aku mendapatkan pekerjaan sebagai seorang admin sekaligus CS di sebuah kantor kecil, pekerjaan ku saat itu melayani para peserta kursus di Kampung Inggris di Pare. Dan masih saja, aku juga tidak lama bekerja di sana. Mungkin kalian akan berfikir aku tidak berniat bekerja, tapi itulah kenyataannya, bukannya tidak berniat bekerja, hanya saja aku masih belum menemukan tempata bekerja yang bisa membuatku nyaman dan bekerja dengan ikhlas. Setelah dari tempat kursus, aku sempat bekerja di toko emas di pasar. Hingga pada akhir 2016, aku bekerja di lembaga pendidikan Madrasah Tsanawiyah atau MTs.

September 2016 aku memulai karir mengajarku sebagai guru di MTs Swasta yang baru akan didirikan. Di sini aku mulai ikut berjuang mendirikan MTs Swasta dengan Yayasan. Alhamdulillah, pertengahan tahun 2017 MTs resmi mendapatkan ijin pendirian dan siswa yang berniat sekolah di lembaga itupun juga cukup banyak.

Tepat 3 tahun aku di MTs Swasta, akhir tahun 2019 aku memutuskan untuk keluar dan aku merasa sudah cukup untuk bekerja di sana.

Bukan tanpa alasan, aku sekarang menjadi seorang istri, dan aku harus mengikuti suamiku. Tidak lama keluar dari MTs, aku masih menganggur dalam beberapa bulan. Dan tepat awal tahun 2020, seorang teman datang dan membujukku untuk mencoba melamar di lembaga pendidikan tingkat SD. 

Aku mempertimbangkannya cukup lama, dan akhirnya aku memutuskan untuk mencoba. Jika memang itu rezekiku, insyaallah aku akan belajar untuk mengabdi di lembaga itu. Semuanya atas Ridho dari Sang Maha Kuasa, dan mungkin memang sudah takdirku. Aku mulai mengajar di lembaga tersebut dan menjadi seorang guru kelas 5. Bukan hal mudah diawalnya, tapi pelan dan pasti aku mulai memahami dan mengerti mereka.

Seperti yang aku bilang sebelumnya, mengajar siswa SD dan MTs itu berbeda. Pada dasarnya mungkin sama, guru adalah orang tua dan teman bagi siswa. Tapi yang berbeda disini adalah anak-anak SD masih memerlukan banyak bimbingan terutama dalam pikiran kritis mereka dan kenakalan mereka. Sedangkan siswa MTs, kurang lebih mereka sudah memahami baik dan buruk, sangat mudah menjadi teman mereka, tapi sedikit sulit untuk menjadi teman bagi anak SD.

Selama aku menjadi seorang guru, aku belajar tentang satu hal, yaitu profesi guru bukanlah pekerjaan melainkan profesi untuk mengabdi. “Guru ibarat matahari dan air. Dan siswa ibarat pohon, guru harus menjadi matahari dan air agar pohon bisa terus tumbuh. Itulah guru, guru harus membuat siswanya tumbuh dengan akhlak dan ilmu yang barokah”.

[zombify_post]

Previous articleBahan Rumahan Yang Ternyata Bisa Menjaga Kesehatan Rambutmu, Wajib Baca!
Next articleInilah Cara Jitu Membedakan Kosmetik Asli Atau Palsu. Jangan Tertipu!