Curhat Bule Nikahi Pria Bali: Tak Bisa Cuci Bukan IRT Yang Baik

Sedari dulu hingga saat ini, ada banyak orang Bali yang memutuskan menikah dengan warga asing. Dan kebanyakan dari pasangan beda negara tersebut memilih untuk membangun keluarga mereka dengan menetap di Pulau Dewata. Sayangnya, ternyata itu tidak selalu mudah bagi warga negara asing tersebut.

Meski Bali kerap dianggap sebagai Island of Paradise, namun tak jarang para bule di Bali khususnya wanita mendapati budaya yang tidak cocok atau tidak sesuai dengan prinsip dan kepribadian mereka.

Nah baru-baru ini ada seorang bule bernama Veronika yang begitu sering menuangkan pengalamannya usai menikah dengan pria Bali. Dan berikut beberapa curhatan Veronika dalam postingan berjudul ‘Bali Without Photoshop’

Dianggap Cantik

Tak bisa dipungkiri memang, banyak orang Indonesia menganggap penampilan bule lebih menarik karena memiliki kulit putih dan hidung yang mancung.

Veronika sendiri mengalami hal tersebut usai menikah dengan pria yang ditemuinya saat dirinya kehilangan paspor di Indonesia. Meski tergolong bertubuh kecil di negaranya, namun Veronika terlihat lebih tinggi dari kebanyakan wanita di Indonesia.

“Tapi hal yang paling penting adalah hidungku yang panjang dan besar. Semua orang yang menyukainya.” ucap Veronika.

Dianggap Bukan Ibu Rumah Tangga yang Baik

Namun di saat yang sama, Veronika ternyata kurang dianggap baik sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga bagi pria Bali yang menikahinya. Dilansir dari Brightside, di Bali, para istri diharapkan bisa mengepel setiap hari, mencuci baju dengan pemotong kentang, dan menyetrika semua kain.

Veronika sendiri sudah pasti tidak terbiasa dengan semuanya, termasuk menyeterika seprei, pakaian dalam handuk hingga kaus kaki.

“Orang di sini menyetrika sambil duduk di lantai dan jika baju-baju yang baru dicuci itu tidak tercium seperti bunga, mereka akan berpikir itu masih kotor dan mencucinya lagi. Itulah mengapa penting untuk menyemprot parfum ke baju,” sambung Veronika yang memiliki akun Instagram @vero_bule.

Cuti Melahirkan Hanya 3 Bulan

Hal lain yang mengejutkan bagi seorang Veronika adalah hari libur dan pendapatan orang Indonesia. Disebutkan jika kebanyakan orang Indonesia punya 12 hari libur dalam setahun dan cuti melahirkan hanya tiga bulan.

Namun ibu anak satu itu juga menyoroti soal warga lokal senang membantu satu sama lain.

“Pernah kami ada di pantai suatu malam dan seorang penjual mendatangi kami dengan tempelan magnet atau suvenir yang jelek. Aku bahkan tidak ingin berbicara tapi suamiku malah mendengarkan pria itu dan membeli sesuatu yang bahkan tidak ia tawar. Dia percaya bahwa jika seseorang bekerja, kita harus mendukungnya,” jelas Veronika.

Anak Boleh Makan Apapun

Perbedaaan cara membesarkan anak juga kerap menjadi masalah bagi pasangan beda negara. Veronika pun tak memungkiri hal tersebut. Bukan hanya dengan suaminya saja tapi keluarga besar dari suaminya termasuk orang-orang di lingkungannya.

Dikatakan oleh Veronika bahwasanya orang Bali sangat menyukai anak kecil karena itu mereka akan memaklumi jika anak-anak tersebut berlarian, berteriak, bahkan merusak barang di toko.

“Jika orangtua mencoba membereskan barang yang anaknya rusak, karyawannya hanya akan tersenyum dan berkata ‘It’s okay’. kata Veronika.

Tapi ada satu hal yang sangat mengganggu pikiran Veronika adalah ketika anaknya diperbolehkan makan apa saja, terutama oleh saudara-saudara sang suami. Dan terkadang, mereka memberikan makanan itu tanpa meminta persetujuan dari dirinya sebagai ibu terlebih dahulu.

“Itu adalah masalah besar bagiku dan tidak banyak yang bisa aku lakukan,” imbuhnya.

Patriarki Hingga Gempa Bumi

Berbagai budaya atau kebiasaan orang Bali memang masih bisa ditolerir oleh Veronika. Namun ia mengaku jika beberapa hal sulit untuk dihadapinya, terutama yang sudah sekaitan dengan mental, patriarki, dan seringnya terjadi gempa bumi.

“Aku merindukan perubahan musim. Siapa yang sangka aku akan rindu musim hujan di bulan November,” katanya.