Hati-hati! Berhenti Merokok di Atas Usia 35 Tahun Tak Kurangi Risiko Kematian Lebih Cepat

6
Hati-hati! Berhenti Merokok di Atas Usia 35 Tahun Tak Kurangi Risiko Kematian Lebih Cepat
Sumber : Canva

Hati-hati! Berhenti Merokok di Atas Usia 35 Tahun Tak Kurangi Risiko Kematian Lebih Cepat – Sudah banyak penelitian yang menyebutkan bahwa merokok dapat memperpendek usia. Karena kecanduan merokok bisa menyebabkan berbagai penyakit kronis.

Penelitian ini bukan tanpa alasan namun yang mengherankan masih banyak masyarakat yang masih tidak percaya.

Sebagian berpendapat kematian karena ajalnya sudah tiba bukan karena dampak dari merokok.

Penelitian terbaru di Amerika Serikat, saran untuk berhenti merokok adalah ketika di bawah usia 35 tahun. Karena ketika berhenti ketika usia sudah 35 tahun ke atas tidak lagi berdampak apa-apa terhadap resiko penyakit.

“Tingkat kematian mereka yang baru berhenti merokok di usia 35 tahun sama saja dengan yang tidak pernah berhenti sama sekali. Kalau Anda mau berhenti, berhentilah merokok di usia muda di bawah 35 tahun.

Hati-hati! Berhenti Merokok di Atas Usia 35 Tahun Tak Kurangi Risiko Kematian Lebih Cepat
Sumber : Canva

Karena masih ada waktu untuk memperbaiki bagian tubuh Anda yang rusak,” begitu kata Profesor emeritus di Departemen Kedokteran Keluarga dan Kesehatan Masyarakat di University of California, San Diego, John P. Pierce, dikutip dari Science Alert, Rabu (26/10/2022).

Studi yang dipublish John melalui jurnal JAMA menyebutkan mantan perokok yang berhenti di usia 35 tahun dan 44 tahun sama-sama menunjukkan tingkat kematian 21 persen lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak merokok sama sekali.

Dan mereka yang berhenti antara usia 45 dan 54 tahun menunjukkan angka kematian 47 persen lebih tinggi daripada yang tidak pernah merokok.

“Sudah lama diketahui bahwa semakin dini seorang perokok berhenti, semakin baik,” ucap John Pierce.

Studi terbaru menggunakan data dari survei wawancara Kesehatan Nasional AS yakni survei berbasis kuesioner yang digunakan untuk memantau kesehatan penduduk AS, dan Indeks Kematian Nasional, database catatan kematian bangsa.

Dari analisis tersebut mencakup data survei dari lebih dari 550.000 orang dewasa yang menyelesaikan kuesioner antara Januari 1997 dan Desember 2018 dan berusia antara 25 dan 84 tahun.

Ini termasuk perokok saat ini, mantan perokok dan tidak pernah merokok, yang berarti orang yang merokok kurang dari 100 batang dalam hidup mereka.

Menurut Indeks Kematian Nasional, hampir 75.000 subjek penelitian ini telah meninggal pada akhir 2019.

Dibandingkan dengan yang tidak pernah merokok, perokok saat ini menunjukkan tingkat kematian semua penyebab yang jauh lebih tinggi.

Penyebab kematian adalah kanker, penyakit jantung dan penyakit paru-paru. Dan yang paling tinggi adalah kanker.

Dari penelitian itu juga terlihat data perokok kulit putih non-Hispanik menunjukkan tingkat kematian tiga kali lebih tinggi daripada yang tidak pernah merokok.

Perokok non-kulit putih, termasuk orang Hispanik dan non-Hispanik, memiliki tingkat kematian yang sedikit lebih rendah, sekitar dua kali lipat dari yang tidak pernah merokok.

John Pierce menuturkan secara khusus mereka yang berhenti pada usia 45 tahun mengurangi risiko kematian hingga 90 persen, dan mereka yang berhenti sebelum usia 35 tahun menunjukkan tingkat kematian yang sangat dekat dengan mereka yang tidak pernah merokok.

Meski begitu, John Pierce mengakui bahwa penelitian ini memang memiliki beberapa keterbatasan.

Baca Juga : Kamu Tidur Kurang dari 5 Jam, Hati-hati Berisiko Idap Penyakit Kronis

Misalnya, informasi tentang kebiasaan merokok subjek dikumpulkan pada satu waktu, sehingga beberapa subjek mungkin telah berhenti atau mulai merokok setelah disurvei.

“Jadi, bahaya merokok yang sebenarnya dan manfaat sebenarnya dari berhenti merokok mungkin diremehkan dalam penelitian ini,” ucap Pierce.

Meskipun demikian, penelitian ini masih menunjukkan bahwa berhenti merokok sangat mengurangi risiko kematian dini. Terutama jika Anda melakukannya di usia muda.

Previous articleBermain Video Game Bisa Picu Peningkatan Ketajaman Otak Anak
Next articleApa Itu Sepsis? Penyakit yang Merenggut Nyawa Bintang Harry Potter, Robbie Coltrane