Inilah Alasan Anda sering Mengalami Deja vu

Secara harfiah, déjà vu berasal dari baha Prancis yang memiliki arti “Pernah dilihat”. Hal ini kerap dianggap sebagai fenomena merasakan sensasi kuat bahwa suatu peristiwa atau pengalaman yang saat ini sedang dialami sudah pernah dialami di masa lalu.

Banyak penelitian yang sudah dilakukan tentang déjà vu. Hasilnya adalah yang berbeda-beda. Namun, ada sejumlah peneliti yang sepakat dan menilai tentang déjà vu.

Menurut peneliti, ada tiga penyebab terjadinya déjà vu dalam diri. hal tersebut semuanya berkaitan dengan otak, sebagaimana yang di jelaskan berikut ini:

Pernah Berada di Tempat yang Sama Sebelumnya

Beberapa peneliti percaya bahwa déjà vu ini dipicu ketika anda memasuki lingkugan yang mirip dengan yang pernah anda datangi atau alami sebelumnya di masa lalu. Misalnya saja, anda dapat mengalaminya ketika memasuki lobi hotel tempat perabota di setting dengan cara yang sama seperti ruang keluarga di rumah masa kecil.

Kemudian, peneliti menguji teori  tersebut dalam penelitian tahun 2009 yang diterbitkan dalam jurnal Psychonomic Bulletin & Review. Para peneliti menyimpulkan bahwa mungkin ada hubungan antara déjà vu dan perasaan keakraban.

Sering jalan-jalan

Orang-orang yang sering melakukan perjalanan dan mereka yang dapat mengingat mimpinya lebih memungkinkan untuk mengalami déjà vu, dari pada mereka yang suka berdiam diri di rumah saja. Orang-orang ini dapat menggunakan berbagai sumber imajinasi. Misalnya menginjak Selandia Baru dan melihat pemandangan gunung Es. Setibanya di Swiss, mereka tiba-tiba merasa déjà vu lantaran sudah pernah melihat hal yang nyaris seupa di selandia baru.

Ada sesuatu dengan otak anda

Beberapa orang yang memiliki epilepsy lobus temporal yaitu sejenis epilepsy yang terjadi di bagian otak yang menangani memori jangka pendek, mengalami déjà vu tepat sebelum mereka mengalami kejang. Itulah sebabnya beberapa ahli berpikir dej avu olah semacam gangguan dalam penembakkan neuron di otak.

Ketidakcocokan dan hubungan pendek

Déjà vu pada orang yang sehat dilaporkan sebagai kesalahan ingatan yang dapat mengekspos sifat alami dari sistem memori. Beberapa peneliti berspekulasi bahwa déjà vu mengarah pada pembangkitan memori rinci yang keliru dari sebuah pengalaman sensorik baru. Artinya, suatu informasi menerabas memori jangka pendek, dan malah mencapai memori jangka pendek. Ini menyiratkan bahwa déjà vu dipicu oleh ketidakcocokan antara input sensorik dan output pemanggilan memori. Ini menjelaskan mengapa pengalaman baru bisa terasa sangat akrab, tetapi tidak begitu nyata seperti memori sebenarnya.

Teori-teori lain mengatakan aktibasi sistem saraf rhinal yang terlibat dalam pendeteksian rasa akrab, terjadi tanpa aktivasi sistem ingatan hippocampus. Ini mengarah pada rasa akrab tanpa detail spesifik.

Terkait dengan teori ini, ada gagasan bahwa déjà vu adalah reaksi sistem memori otak terhadap pengalaman yang sudah dikenal. Pengalaman ini diketahui sebagai pengalaman baru. Tetapi memiliki banyak elemen yang dapat dikenali , meskipun dalam keadaan yang sedikit berbeda.

Masih ada lebih banyak lagi teori tentang penyebab déjà vu. Mulai dari segi paranormal-kehidupan masa lalu,penculikan alien, dan mimpi ramalan- hingga ingatan yang terbentuk dari pengalaman tidak langsung (seperti adegan dalam film)

Sejauh ini tidak ada penjelasan yang sederhana mengenai déjà vu, tetapi kemajuan teknologi dalam pencitraan saraf dapat membantu kita dalam memahami tentang teori dan tipuan pikiran diri kita sendiri.