Kisah Bos Indofood: Gelandangan Tiongkok, Jadi Terkaya ke-10 di Indonesia

17436
Kisah Bos Indofood: Gelandangan Tiongkok, Jadi Terkaya ke-10 Di Indonesia
Om Liem, Foto: Dok Nasional Tempo

Masyarakat Indonesia tentu sudah sangat familiar dengan merek Indofood. Ya, beragam produk Indofood seakan menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat di tanah air.

Tapi bisa jadi diantara kamu semua, belum ada yang tahu atau cuma segilintir orang saja yang mengetahui siapa pemilik PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood)?

Benar, pemilik Indofood adalah Salim Group yang didirikan oleh Soedono Salim atau yang akrab dipanggil Om Liem.

Meski sudah tutup usia, nama Om Liem sejatinya masih harum di dunia bisnis Indonesia. Pasalnya, semasa hidupnya, Om Liem adalah salah satu konglomerat tersukses di Tanah Air yang meninggalkan begitu banyak prestasi.

Satu yang pasti, semua keberhasilan yang didapatkan Om Liem tak diperolehnya secara instan. Bahkan dulunya, Om Liem pernah hidup sangat miskin dan layaknya gelandangan di negeri kelahirannya, yakni China daratan.

Biar kamu tahu, Om Liem lahir di Fuqing, sebuah desa kecil di wilayah Fujian, China bagian selatan pada 16 Juli 1916. Dia lahir dengan nama Lim Sioe Liong dan merupakan anak kedua dari seorang petani.

Di masa kecilnya, Liem Sioe Liong hidup dengan sangat kekurangan, dan karena kemiskinan yang menggerogoti keluarganya, Liem Sioe Liong terpaksa harus putus sekolah sedari usianya 15 tahun dan berjualan mie di sekitar tempat tinggalnya.

Di satu masa, kemiskinan itulah yang kemudian mendorong Liem Sioe Liong memutuskan hijrah ke Indonesia mengikuti jejak sang kakak yang sudah terlebih dahulu tiba di Tanah Air. Liem Sioe Liong sendiri tiba di tanah air pada tahun 1939, ketika dimulainya Perang Dunia II.

Kisah perjuangan Om Liem sendiri dituliskan dalam buku berjudul ‘How Chinese are Entrepreneurial Strategies of Ethnic Chinese Business Group in Southeast Asia? A Multifaceted Analysis of the Salim Group of Indonesia’ karangan Marleen Dieleman yang diterbitkan pada tahun 2007. Buku tersebut mengambil data dari berbagai sumber, salah satunya adalah laporan tahunan resmi perusahaan Salim Group.

Nah, ketika sudah tiba di Indonesia, hal pertama kali yang dilakukan Om Liem adalah mencari uang. Singkat cerita, ia mulai bekerja sebagai suppllier cengkeh untuk perusahaan-perusahaan rokok di kudus dan Semarang, Jawa Tengah.

Cengkeh menjadi salah satu bisnis yang menunjang kerajaan bisnisnya di masa mendatang, selain bisnis tekstil tentunya. Pada era pemerintahan Presiden Soeharto, Om Liem juga pernah berbisnis di dunia perbankan dengan mendirikan Bank Windu Kencana dan Bank Central Asia (BCA).

Om Liem bersama tiga rekan bisnisnya yakni Djuhar Sutanto, Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad (belakangan dikenal sebagai The Gangs of Four) membangun sebuah perusahaan tepung terigu terbesar di Indonesia yaitu, PT Bogasari. Di masanya, PT Bogasari menguasai 2/3 pasar terigu Indonesia.

Namun, Om Liem sebenarnya tidak mulus-mulus juga dalam membangun kerajaan bisnis. Beliau pernah mengalami kejatuhan dalam bisnisnya, seperti pada tahun 1997, di mana krisis moneter melanda Indonesia, kerajaan bisnisnya sempat goyah karena memiliki utang yang cukup besar, yang dilaporkan mencapai Rp 52 triliun.

Dan untuk menutupi utangnya, Om Liem terpaksa melepas beberapa perusahaannya seperti PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA, dan PT Indomobil Sukses Internasional.

Tetapi jiwa entrepreneurship yang sudah terlanjur melekat, membuat Om Liem tak mau berlama-lama terpuruk. Ia berusaha bangkit melalui perusahaan yang masih dimiliknya, yakni PT Indofood Sukses Makmur, Tbk yang memproduksi Indomie yang begitu disukai masyarakat Indonesia bahkan dikenal sampai di kancah dunia.

Hingga akhirnya, pada tahun 2006, kiprah Liem Sioe Liong di dunia bisnis bisa menemukan kejayaannya kembali. Tak main-main, Om Liem sempat pernah menduduki peringkat nomor 10 dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes.

Kala itu, jumlah total kekayaan Om Liem ditaksir mencapai US$ 800 juta. Dan sejak Om Liem tutup usia pada 10 Juni 2012, kerajaan bisnisnya saat ini dijalankan oleh anaknya yakni Anthoni Salim.