Kisah Horor KKN di Desa Penari yang Tengah Viral di Media Sosial

55

Cerita horor KKN di Desa Penari viral setelah dibagikan oleh akun @SimpleM81378523 di Twitter.

Pengguna akun Twitter bernama SimpleMan itu menulis cuitan cerita berseri sejak 24 Juni-27 Juli 2019.

Tiga hutan yang berada di daerah Jawa Timur ini disebut-sebut merupakan lokasi paling otentik untuk melaksanakan praktek Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Penari yang menjadi trending topic di Twitter.

Tiga hutan yang terletak di Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso daerah paling timur Pulau Jawa ini emang terkenal seram dan angker.

Dimanakah lokasi hutan yang identik dengan cerita horor KKN di Desa Penari itu?

Teka-teki dimana lokasi cerita horor KKN di Desa Penari yang tengah viral di media sosial jadi perbincangan hangat netizen.

Akun @SimpleM81378523 menjelaskan kejadian yang dituliskannya berdasarkan kisah nyata Mahasiswa KKN di sebuah desa terpencil yang disebut Desa Penari.

Walaupun itu merupakan kisah nyata, namun penulis tidak mau menyebutkan lokasi dimana kejadian tersebut. Begitu juga nama-nama Mahasiswa KKN yang disamarkannya.

Diceritakan ada 6 Mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi di Kota S melaksanakan KKN di sebuah desa terpencil di daerah Jawa Timur pada akhir tahun 2009 silam.

Dialog dalam cerita tersebut dituliskan dalam Bahasa Jawa, namun penulis juga menyertakan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.

Enam Mahasiswa pada masa angkatan 2005/2006 tersebut yakni bernama Widya, Nur, Ayu, Bima, Wahyu, dan Anton.

Kota S yang diyakini oleh netizen tersebut adalah Kota Surabaya. Ini berdasarkan perbincangan antara yang sempat menyebutkan satu diantara kosakata yang terkenal di Jawa Timur, “Cuk, sepedaan tah.”

Kata ‘Cuk’ sendiri memang lazim digunakan oleh orang-orang di Surabaya yang awalnya makian namun berubah makna menjadi ‘sapaan akrab’ sesama teman. Sementara untuk lokasi kabupaten tempat KKN banyak yang berdebat antara Bondowoso ataukah Banyuwangi. Kenapa Bondowoso atau Banyuwangi?

Ini berdasarkan percakapan antara Widya dan Ayu.

“Nang kota B, gok deso kabupaten K***li**, akeh proker, tak jamin, nggone cocok gawe KKN” (di kota B, di sebuah desa di kabupaten K*******, banyak proker untuk dikerjakan, tempatnya cocok untuk KKN kita).

Penulis juga menyebutkan desa tempat KKN tersebut dengan inisial W, “sampailah mereka di Desa W***8, tempat mereka akan mengabdikan diri selama 6 minggu ke depan”.

Lokasi tempat KKN tersebut menurut penulis juga letaknya tak jauh dari sebuah hutan atau alas berinisial D.

“Mobil berhenti di jalur masuk hutan D, menempuh perjalanan 4 sampai 5 jam dari kota S”.

Hutan D banyak yang menduga itu merupakan hutan Dadapan yang letaknya berada di Kabupaten Bondowoso.

Viralnya cerita KKN di Desa Penari membuat netizen berspekulasi dimana lokasi-lokasi tersebut.

Kunci pertama adalah, harus disepakati bahwa “kisah nyata” tersebut terjadi di Jawa Timur yang dikuatkan dengan penggunaan kata “REK” atau “AREK” sejak cerita dimulai.

Kunci kedua adalah, para mahasiswa KKN itu adalah dari kampus di Kota S yang sudah bisa dipastikan adalah Kota Surabay. Salah satu petunjuk adalah cuplikan kisah versi Widya (bagian 1) sebagai berikut:

“Cuk. sepedaan tah” Kata Wahyu, spontan. Saat itu ada yang aneh entah disengaja atau tidak, ucapan yang dianggap biasa di Kota S, ditanggapi lain oleh lelaki-lelaki itu, wajahnya tampak tidak suka, dan sinis tajam melihat Wahyu.

Sobat Oretzz sudah pada tahu kan kalau yang biasa bilang “cak-cuk-cak-cuk” semacam itu adalah para Bonek. Ya memang sih, Arema juga suka gitu. Tapi kan kota mereka berawalan huruf M, bukan S.

Kunci keempat adalah KKN dilaksanakan di Kota B dan ada 2 kota yang namanya berawalan huruf B di atas yaitu Bondowoso dan Banyuwangi.

Namun, dari sini nama Bondowoso harus dicoret karena tidak cocok dari keseluruhan cerita di bagian 1 maupun bagian 2. Apa alasannya?

Ada dijelaskan dalam cerita tersebut bahwa untuk menuju kota B harus melalui kota J yang sudah dipastiksn itu adalah Kota Jember dan itu nggak wajar, karena buat apa jauh-jauh muter ke selatan untuk menuju Bondowoso dari Surabaya.

Lagipula, Bondowoso sebagaimana Kabupaten Tapal Kuda lain di wilayah pesisir utara, tidak akrab dengan tradisi “penari” atau tari-tarian seperti yang digambarkan dalam keseluruhan cerita. Itu ada kaitannya dengan kultur etnisitas wilayah-wilayah tersebut yang cenderung Madura sentris.

Berbeda dengan wilayah selatan yang konon berasal dari keturunan Majapahit yang lari menuju Bali setelah kerajaan Hindu terakhir di Pulau Jawa itu runtuh.

Sejak dari Tengger, Lumajang, Puger sampai Banyuwangi.

[zombify_post]

Previous articleIbukota Mau Pindah Ke Kalimantan? Ternyata, Indonesia Bukan Negara Pertama Yang Melakukannya.
Next articleBuat Kamu yang Suka Cerita “KKN di Desa Penari” Inilah 7 Serial Anime Horor yang Bikin Sobat Merinding