Pencari kerja mengisi aplikasi berkas lamaran pekerjaan di sebuah stan perusahaan pada Bursa Kerja di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (11/1). Bursa kerja diikuti puluhan perusahaan lokal dan nasional dengan menyediakan ribuan lowongan pekerjaan untuk berbagai posisi. ANTARA FOTO/R Rekotomo/ama/17.

Kisah Pencari Kerja di Masa Pandemi Covid-19 Yang Berakhir Manis

Selama pandemi virus Corona, hampir setiap hari pria bernama Nyoman Tri Wira Arta rutin mengecek kotak masuk di emailnya. Tak terhitung pula sudah berapa kali ia menekan tombol refresh sembari berharap ada sebuah email balasan yang masuk. Sayang, pesan yang Wira begitu ia disapa tunggu-tunggu tak kunjung muncul di kotak masuk.

Hampir 9 bulan lamanya Wira mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Tanpa alasan yang jelas, Wira diberhentikan dari jabatannya sebagai seorang analisis produk pasar di sebuah perusahaan swasta medio akhir 2019 kemarin.

Usai terkena PHK, kehidupan Wira yang notabene seorang lulusan Universitas Gunadarma, Jurusan Teknik Mesin tidak berhenti begitu saja. Wira sempat memiliki asa tuk bisa bekerja kembali setelah mengunjungi bursa pencari kerja yang digelar Universitas Indonesia pada awal Januari 2020 kemarin.

http://Nyoman%20Tri%20Wira%20Arta

Di periode itu, Wira mendapati sebuah perusahaan batu bara di Palembang mencari seseorang dengan kualifikasi tenaga maintenance mesin. Kontrak kerja pun berhasil diteken oleh Wira. Ia bahkan tinggal menunggu hari tuk keberangkatannya ke Palembang. Sayangnya, begitu masa panggilannya tiba, pandemi COVID-19 datang menghantam upaya Wira tuk bisa kembali bekerja.

“Awal Maret tiba-tiba dapat kabar saya batal berangkat karena Jakarta masuk zona merah Covid-19. Dan sampai sekarang pun perusahaan tersebut sudah tidak memberi kabar lagi terkait kelanjutannya seperti apa,” sesal Wira.

Menurut Wira, sejak pandemi Covid-19 datang ke Indonesia, ia begitu susah mendapatkan pekerjaan. Bahkan hingga berkali-kali lipat susahnya ketimbang sebelum pandemi seperti sekarang.

Maklum, pencari kerja seperti Wira memang harus bersaing dengan pengangguran baru akibat dampak yang ditimbulkan oleh COVID-19. Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan Roeslani dalam sebuah webinar bahkan memprediksi bakalan ada tambahan hingga 5 juta orang pengangguran baru ketika Indonesia masuk jurang resesi.

Ditambah lagi, setiap tahunnya di Indonesia ada tambahan sebesar 2,24 juta orang yang mencari lapangan kerja baru. Tak cuma itu, berdasarkan data ketenagakerjaan saat ini, total ada sekitar 8,14 juta orang yang dalam situasi setengah menganggur dan 28,41 juta orang berstatus pekerja paruh waktu. Dengan demikian, setidaknya ada 46,3 juta orang yang tidak bekerja secara penuh atau full time.

Kembali ke persoalan Wira, ia sudah mencoba segala cara untuk bisa mendapatkan pekerjaan baru di tengah situasi pandemi dan persaingan mencari kerja yang kian ketat. Berbagai platform pencari kerja, seperti Linkedin hingga Jobstreet telah ia telusuri. Termasuk melakukan pekerjaan sampingan dengan menjadi ojek online.

Untuk mendapatkan pekerjaan kantoran, Wira selalu terkendala dengan penampilan fisiknya. Saat Wira masih berusia 7 tahun atau tepat saat ia menginjak kelas I SD, Wira pernah mengalami kecelakaan saat tengah bermain di bengkel ayahnya. Kejadian tersebut membuat wajahnya mengalami luka bakar.

“Kondisi fisik sangat berpengaruh. Kendala para pencari kerja yang utama adalah dirinya harus good looking dulu,” jelas Wira.

Dua tahun masa pengobatan akibat luka bakar itu membuat kondisi ekonomi keluarga Wira terseok-seok. Kakak-kakaknya harus bahu membahu tuk membiayai uang sekolah adiknya.

“Keluarga saya benar-benar down dari segi fisik, ekonomi, dan lain-lain. Tapi selalu ada Ibu yang memberikan saya motivasi dan semangat sampai saat ini. Makanya saya masih bisa lewati semuanya dengan baik dan kuat. Walaupun penuh tantangan, selalu positif,” tegas Wira yang saat ini menjadi seorang content creator meme di akun Instagram @memelucuindonesia_official.

Wira sendiri membagikan kisahnya selama mencari kerja di tengah masa pandemi seperti sekarang via akun LinkedIn-nya. Ternyata, kisahnya tersebut mendapat ribuan like dan ratusan komentar dari pengguna sosial media tersebut.

Tak sedikit yang akhirnya menawari pekerjaan kepada Wira. Unggahannya di LinkedIn itu pun sukses berujung pada sebuah telepon lowongan pekerjaan dari sebuab perusahaan yang bergerak di bidang kesehatan. Wira ditawari untuk bekerja sebagai tenaga administrasi.

“Karena postingan di LinkedIn itu, tiba-tiba saya dipanggil dua hari lalu jadi admin untuk tes PCR swab tes. Saya dipekerjakan kalau ada panggilan untuk tes PCR saja. Tapi itu sebenarnya sudah sangat membantu untuk mengisi kekosongan. Apalagi saya masih harus membiayai adik saya sekolah,” pungkas Wira.