Lagi Ramai! Pesugihan Sate Gagak, Cara Pintas Jadi Kaya

Di tengah masa sulit seperti sekarang ini, kadang ada-ada saja orang yang berpikiran untuk mengambil jalan pintas. Segala cara mereka lakukan biar bisa mendapatkan uang dengan cepat dan banyak. Selain dengan mencuri, hal-hal yang bersifat mistis seperti pesugihan dijalani juga.

Nah bicara soal pesugihan, di Indonesia sangat banyak jenis dan macamnya. Termasuk salah satunya adalah sate gagak yang mendadak ramai dibahas di sosial media. Jenis Pesugihan ini katanya yang paling mudah karena tidak perlu tumbal. Namun dalam prosesinya sangat menguji mental. Kalau tidak kuat, ya hati-hati. Penasaran seperti apa prosesnya? Berikut ulasan selengkapnya.

Pesugihan sate gagak

Berbeda dengan pesugihan pada umumnya di mana seseorang musti memberikan sesuatu kepada makhluk gaib. Pesugihan ala Sate Gagak ini sifatnya transaksional. Ceritanya, orang yang menjalankan ritual ini menjual sesuatu kepada si makhluk gaib.

Barang dagangannya tentu saja sate gagak. Nantinya dari pihak penjual akan menyebut harga yang harus dibayar si pembeli. Dan kamu tahu siapa peminat dari sate gagak? Ya dia adalah Genderuwo.

Hal-hal yang perlu tuk Pesugihan Sate Gagak

Pesugihan sate gagak relatif mudah persiapannya. Hal yang wajib sudah barang tentu adalah sate gagak, lalu si peminat pesugihan harus mempersiapkan tungku pembakaran, dupa, dan bunga-bungaan.

Tempat pembakaran sate gagak ini dilakukan di lokasi-lokasi yang disinyalir adalah tempat Genderuwo. Bisa pantai, hutan, atau kuburan. Terpenting adalah lokasinya musti jauh dari aktivitas orang. Ya, biar tidak ketahuan kalau lagi buat pesugihan.

Fase Menjual sate

Nah, proses memulai ritual pesugihan sate gagak ini adalah dengan mengunjungi tempat yang sudah dipastikan pada tengah malam. Kemudian si pelaku akan mulai memproses sate gagaknya, mulai dari menyembelih hingga memotong dagingnya untuk dijadikan sate.

Kemudian menyiapkan tungku pembakarannya. Setelah sate yang dibakar mulai mengeluarkan asap mengepul dimulailah tantangan sebenarnya. Pasalnya, saat sate siap dijajakan, si pelaku harus terlebih dulu melepas semua pakaian yang dikenakan alias telanjang bulat.

Tantangan selanjutnya adalah pelaku harus menjajakan satenya tersebut layaknya penjual sungguhan. Setelahnya, biasanya akan mulai muncul bebauan yang sangat menyengat, diiringi sosok yang tinggi dan berbulu. Biasanya mereka juga tidak datang sendirian. Inilah target pelanggannya.

Dalam fase ini penjual harus menyebutkan harganya, misal satu tusuknya Rp 50 juta. Jika puas, si Genderuwo akan memberikan uang-uang tersebut. Dikatakan kalau selama proses tersebut, makhluk berbulu ini hanya akan diam saja.

Meskipun demikian, tapi bagi pelaku sendiri tentu situasi tersebut seramnya tidak karuan. Begitu usai menyantap satenya, maka si Genderuwo akan berangsur hilang. Oh iya, katanya dalam proses ini pelakunya tidak boleh mengingat Tuhan, dalam arti membaca doa atau semacamnya karena akan membuat ritual ini gagal total.

Apa saja yang didapatkan dari pesugihan ini

Sebenarnya tak hanya uang, pelaku pesugihan sate gagak ini juga bisa meminta-minta hal-hal lain. Tapi yang paling umum selain uang ada dua benda yang kerap diminta, yakni sarung si Genderuwo dan bulunya.

Sarung konon katanya bisa dipakai seseorang menghilang atau tidak nampak ketika melakukan aksi pencurian. Lalu fungsi dari bulu itu sendiri adalah sebagai Buluh Perindu yang identik dengan pengasihan dan pelet.

Bisa berakhir bahagia atau..

Tidak ada tumbal yang diperlukan dalam proses pesugihan sate gagak ini. Hanya modal sate gagak dan seperti yang sudah disebutkan diatas. Meski demikian, ada cerita jika seseorang yang sudah pernah menjajakan sate gagak ini, selamanya takkan bisa lepas dari si Genderuwo.

Si makhluk tersebut akan terus mendatangi pelaku, entah di malam hari atau dalam mimpi. Ia akan menagih terus sate gagak yang pernah diberikan.

So, antara percaya dan tidak percaya, tapi demikianlah yang diceritakan oleh masyarakat. Cerita ini tidak dimaksudkan untuk dicoba ya, tapi sebagai gambaran saja bahwa hal-hal seperti ini masih banyak dilakukan oleh masyarakat kita.

Lagi pula jika ingin melakukan sesuatu semacam ini risikonya terlalu besar, terutama akan berdampak langsung pada keimanan.