Mafia di Bandara Soetta? Dibayar Rp 6,5 Juta, Bukan Petugas Tapi Punya Kartu Akses

136
Mafia di Bandara Seokarno Hatta
Photo By: semarak.com

Polisi menyebutkan bahwa ada Mafia di Bandara Soekarno Hatta. Mafia ini menawarkan jasanya kepada penumpang kedatangan international untuk bisa lolos masuk Indonesia tanpa harus menjalani masa karantina.

Dilansir dari Kompas.com, polisi telah menangkap dua orang mafia yang berinisial S dan RW. Keduanya diduga telah meloloskan satu orang WNI berinisial JD yang baru tiba dari India.

JD mengaku menyerahkan uang sebesar Rp. 6,5 juta kepada kedua pelaku tersebut sehingga dirinya tidak perlu menjalani kewajiban karantina Covid-19.

Pelaku mafia mengaku sebagai petugas di Bandara Seokarno-Hatta kepada pengguna jasanya.

Punya Kartu Akses

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Bandara Soetta, Kolonel Pas MA Silaban mengatakan, kedua terduga mafia karantina ini bukanlah petugas bandara. S dan RW merupakan oknum yang memiliki kepentingan dengan instansi lain di Bandara.

“Diduga kedua oknum itu, yang di sejumlah pemberitaan berinisial S dan RW, adalah pihak berkepentingan dengan instansi lain di bandara”, ungkap Silaban dalam rilis resmi (27/4/2021) dikutip dari Kompas.

“Oleh karena itu, mereka memiliki kartu pas bandara, dan mereka tidak bertanggung jawab. Tapi, justru melakukan penyalahgunaan kartu pas bandara tersebut”, sambungnya.

Silaban pun mengatakan bahwa pihaknya akan mendukung penuh pihak kepolisian dalam pengungkapkan kasus mafia karantina itu bersama kantor Otoritas Bandara Wilayah I.

“Satgas Udara Penanganan Covid-19 mendukung penuh Polri untuk mengungkap kasus ini”, tuturnya.

Sementara itu, Executive General Manager Bandara Soekarno-Hatta Agus Haryadi juga menegaskan bahwa S dan RW bukanlah petugas bandara.

Hal tersebut diketahui setelah melakukan pengecekan yang dilakukan jajarannya terkait sosok dan kepentingan kedua pelaku di bandara Soetta.

“Kami sudah melakukan pengecekan, dan memastikan bahwa dua oknum itu bukan petugas Bandara Seokarno Hatta”, ujarnya.

Agus juga mengimbau PT Angkasa Pura (AP) II dan Instansi lainnya agar selalu menaati peraturan dan menjaga nama Bandara Soekarno-Hatta.

Relasi Ayah-Anak

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Yusri Yunus mengatakan bahwa S dan RW memiliki hubungan ayah dan anak.

Keduanya itu bebas keluar masuk bandara dan bisa membantu JD lolos dari prosedur karantina. JD tiba dari India pada har Minggu (25/4/2021) sekitar pukul 18.45.

Pihak polisi langsung mengamankan JD, S dan RW. Sampai saat ini polisi masih mendalami proses lolosnya JD tanpa melalui protokol kesehatan (prokes) yang berlaku di Bandara Soekarno Hatta.

Yusri juga menegaskan bahwa keduanya tidak ditahan sebab merujuk pada Undang-Undang Karantina Kesehatan yang ancaman di bawah lima tahun.

“Karena ini yang kita kenakan Undang-Undang Karantina Kesehatan tentang wabah penyakit yang ancamannya di bawah 5 tahun. Tapi prosesnya tetap berjalan”, jelas Yusri.

Sebutan Mafia Karantina

Dalam kasus ini, istilah “Mafia” itu sendiri pertama kali diungkapkan oleh Yusri sendiri.

Hal ini disebabkan karena menurut Yusri sudah banyak kasus orang-orang dari luar negeri dapat masuk ke Indonesia tanpa perlu melakukan karantina. Mereka membayarkan sejumlah uang ke oknum yang mengaku petugas.

Seperti yang diketahui, baru-baru ini pemerintah Indonesia memberlakukan karantina 14  hari bagi WNI dan WNA yang tiba di Indonesia dari India.