Mengenang Kembali Sosok Pierre Tendean, Pahlawan dengan Paras Tampan yang Memikat Hati para Kaum Hawa

742

Tepat hari ini, 30 September, 54 tahun yang lalu, kita mengenal yang namanya peristiwa G30S/PKI yang menewaskan 7 jenderal yakni Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI Raden Suprapto, Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan, Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo, serta ajudan Jenderal Abdul Harris Nasution, Lettu Pierre Tendean. Sebenarnya yang menjadi sasaran utama adalah Jendral Nasution, namun yang menjadi korban adalah putrinya sendiri yakni Ade Irma Suryani Nasution, dan juga ajudannya, Pierre Tendean.

Sosok Pierre Tendean memang sering di highlight, karena ia tewas di usia yang cukup muda, yakni 26 tahun, dan juga apalagi kalau bukan karena parasnya yang tampan, serta kisah inspiratifnya semasa hidupnya.

BACKGROUND KELUARGA PIERRE TENDEAN

Pierre Andries Tendean, lahir pada 21 Februari 1939 dari pasangan Dr. A. L. Tendean, seorang dokter yang berdarah Minahasa, dan Cornett M. E, seorang wanita berketurunan Prancis. Ya, Pierre adalah seorang lelaki indo, itulah yang menyebabkan parasnya tampan kebule-bulean. Ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara, serta merupakan anak laki-laki satu-satunya. Kakaknya bernama Mitze Farre, dan adiknya bernama Rooswidiati. Keluarga Pierre ini memang berasal dari keluarga yang berada dan mampu. Pierre menghabiskan masa kecilnya di Semarang dan Magelang, mengikuti pekerjaan ayahnya sebagai dokter yang sering berpindah-pindah tugas. Sejak kecil, Pierre memang sudah bercita-cita menjadi seorang perwira militer, meskipun kedua orang tua Pierre lebih setuju jika Pierre menjadi dokter seperti ayahnya, ataupun menjadi insinyur.

MASA SEKOLAH PIERRE

Meskipun berasal dari keluarga kelas atas,  nyatanya tidak membuat Pierre menjadi anak yang sombong terhadap teman-temannya yang kebanyakan berasal dari kalangan bawah. Sejak SD,  Pierre sudah menjadi anak yang aktif dan periang,  serta baik dan pandai bergaul. Saat pulang sekolah,  ia sering bermain dengan teman-temannya di sungai dan ia juga sering sendirian bermain di sawah untuk mencari siput sebagai tambahan lauk makan kepada teman-temannya. (How cute,  right?)

Saat SMP dan SMA ia habiskan di Semarang,  mengikuti tempat ayahnya bekerja. Saat SMA dia adalah anak klub voli,  dan juga dari SMA sudah banyak loh,  perempuan yang naksir sama Pierre. (bagaimana tidak, sudah tampan, baik, kaya, dan cerdas pula).  Namun meskipun begitu,  Pierre sangat rendah hati seperti misalnya,  dia tidak ingin mengenakan sepatu ke sekolah,  karena dia tidak ingin berbeda dari teman-temannya yang hanya mengenakan sandal. Ia juga pernah terlibat perkelahian antar klub voli hingga sampai ia dan teman-temannya ditahan di kantor polisi.  Namun yang patut untuk disaluti adalah, ia sebenarnya bisa saja membawa nama ayahnya untuk dijadikan alasan pembebasan hukuman, namun Pierre tidak pernah mengaku atau menceritakan bahwa dia adalah anak sang Dokter Tendean yang terkenal,  sehingga ia bisa dihukum bersama dengan teman-temannya hingga selesai dihukum dari kantor polisi tersebut bersama-sama.

KARIER MILITER PIERRE DAN PENEMUAN CINTA SEJATI 

Saat sudah lulus SMA,  Pierre pun dianjurkan oleh kedua orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan ke fakuktas teknik ITB atau fakultas kedokteran UI,  namun apa daya Pierre menentang keinginan kedua orangtuanya tersebut dan bersikeras untuk mewujudkan keinginannya masuk sekolah militer. Namun sang kakak, Mitzi,  mendukung cita-cita adiknya tersebut,  dan akhirnya setelah tetap bertekad kuat,  Pierre pun mendapat persetujuan dari keluarganya dan melanjutkan pendidikan di ATEKAD (Akademi Teknik Angkatan Darat)  pada tahun 1958.

Pierre lulus pada tahun 1961, dan ia diberi tugas penyusupan ke Malaysia. Ada hal menarik saat penyusupan ini,  Pierre yang saat itu menyamar sebagai orang asing,  berhasil tidak ketahuan karena memang fisiknya yang berwajah bule, badannya yang tinggi tegap, serta kefasihannya dalam berbahasa asing. (Pierre menguasai bahasa Inggris, Jerman, Belanda, dan Prancis, loh).

Pierre juga pernah bertugas di Medan. Saat itulah, pertemuan pertamanya dengan gadis pujaan hatinya bernama Rukmini Chaimin. Gadis bermata besar dan berambut hitam ikal inilah yang berhasil menggetarkan hati seorang Pierre, meskipun selama ini telah banyak gadis-gadis yang mencoba untuk mengambil hatinya. (Sangat beruntung ya Rukmini ini….). Awalnya Pierre dikenalkan oleh teman-temannya, dan saat pandangan pertama inilah, Pierre dan Rukmini sudah saling jatuh cinta. Pertemuan pertama pun menghasilkan pertemuan lanjutan, hingga akhirnya dua sejoli kasmaran ini pun berpacaran.

MENJADI AJUDAN JENDRAL NASUTION

Pada tanggal 15 April 1965, Pierre dipromosikan menjadi Letnan Satu, dan saat inilah ia diperebutkan menjadi ajudan 3 jenderal, yakni Jendral Nasution, Jendral Hartawan, dan Jendral Kadarsan, namun Jendral Nasution lah yang mendapatkan Pierre. Saat keluarganya tahu bahwa Pierre sekarang bertugas menjadi ajudan Jendral Nasution, sang ibu merasa senang karena ia selalu khawatir memikirkan Pierre yang sering tidak diketahui sedang bertugas dimana.

Pierre juga merupakan ajudan kesayangan Jendral Nasution, loh! Jendral Nasution memiliki 4 ajudan, dan Pierre adalah yang termuda dan paling disayang. Jendral Nasution di bukunya yang berjudul “Memenuhi Panggilan Tugas” mengatakan bahwa “Pierre Tendean seperti adik kandung bagi saya dan istri saya. Mungkin sekali karena pengaruh sayalah ia menjadi taruna, karena orang tuanya semula tidak setuju. Ia tinggal di rumah saya sebagai anggota keluarga biasa”.

Yang lucu adalah, setiap kali Pierre sedang mendampingi Jendral Nasution kemana-mana, yang menjadi perhatian bagi para kaum hawa adalah Pierre. Pernah saat itu Jendral Nasution sedang membawa acara di sebuah universitas didampingi Pierre, namun semua mahasiswi yang ada di ruangan fokus pada ajudan sang jendral. Bahkan mereka mengatakan “Telinga kami untuk Pak Nas, tapi mata kami untuk ajudannya”. (Wah,, bisa saja ya para mahasiswi-mahasiswi ini..)

Pierre juga akrab dengan anak-anak Jendral Nasution, terutama si bungsu Ade Irma Suryani. Pierre sering menemani Ade bermain sepeda di halaman rumah. Ade dan sang kakak, Yanti, juga sering bercanda bersama Pierre terutama Yanti suka meledek Pierre tiap kali Pierre sering senyum-senyum sendiri ketika membaca surat dari Rukmini. Biasanya Pierre juga sering memberi hadiah kepada Yanti dan Ade berupa permen dan coklat. (Duh, so sweet banget ya Pierre ini…).

PASCA KEMATIAN PIERRE

Namun sayangnya, sebuah kejadian nahas terjadi. Pada 30 September 1965, tercetuslah peristiwa G30S/PKI yang mengincar jendral-jendral besar, dengan Jendral Nasution sebagai target utamanya, membawa ajal kepada Pierre. Malam itu, segerombolan pasukan baret merah cakrabirawa menyusup masuk ke rumah Jendral Nasution, dan saat itu mereka melepaskan tembakan kemana-mana hingga mengenai Ade yang saat itu baru berusia lima tahun. Tetapi Jendral Nasution, atas desakan istrinya, berhasil meloloskan diri dengan cara memanjat pagar dan dari situ melompat kehalaman rumah yang terletak disamping rumahnya.

Mendengar suara tembakan tersebut, Pierre yang tengah tidur di sebuah kamar di ruang belakang, terbangun dan segera lari ke ruang muka. Sementara itu terdengar lagi suara tembakan di sebelah kiri rumah, rupanya gerombolan itu sedang melepaskan tembakan ke arah Jendral Nasution yang sedang melompati pagar tembok. Mendengar suara itu Pierre berlari ke paviliun sebelah kanan dan dari situ menuju ke sebelah kiri rumah. Pada saat itulah ia dipergoki oleh gerombolan tersebut. Seorang anggota gerombolan bertanya sambil membentak ”Siapa?!” Pierre menjawab bahwa ia adalah ajudan Jendral Nasution. Mendengar kata Nasution itu, para penculik menyangka bahwa yang mereka pergoki itu adalah Jendral Nasution sendiri. Rupanya mereka tidak mengenai betul wajah Nasution. Apalagi waktu itu masih pagi dan cahaya masih remang-remang. Mereka tidak mengenai kata ”ajudan” yang disebutkan oleh Pierre.

Mengira bahwa mereka sudah berhasil menangkap Jendral Nasution, maka para penculik bergembira. Pierre mereka bawa ke tempat penjagaan di depan rumah. Kedua tangannya dipegang oleh penculik dan kemudian diikat. Sesudah itu ia dinaikkan ke sebuah truk dan dibawa ke Lubang Buaya, di tempat ini ia disiksa bersama jendral-jendral lainnya yang berhasil diculik dan dibunuh oleh PKI. Setelah mengalami siksaan yang cukup berat Pierre ditembaki hingga mati. Mayatnya dimasukkan kedalam sebuah sumur tua yang sudah kering, yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Kedalam sumur itu dimasukkan pula mayat jendral-jendral lain. Dan inilah akhir hidup sang perwira muda yang harus meninggalkan keluarga serta kekasihnya tercinta yang berencana akan dipinangnya pada November 1965 nanti….

DITETAPKAN SEBAGAI PAHLAWAN REVOLUSI DAN MASIH DIKENANG HINGGA SEKARANG

Kematian Pierre tentu menjadi pukulan besar bagi orang-orang tercintanya. Bahkan sang ibu pun mengalami stress bertahun-tahun hingga akhirnya sakit keras. Semasa mengunjungi makam Pierre sang ibu selalu mengatakan “Pierre, Pierre, mijn jongen, wat is er met jou gebeurd (Pierre, Pierre, anakku, apa yang terjadi denganmu).” dan bahkan hingga sebelum ajal menjemput, ibunya sebelum wafat sering mengatakan “Pierre, Pierre, ik houd het al niet meer uit (Pierre, Pierre, aku sudah tidak tahan lagi).” Hingga akhirnya pada tanggal 19 Agustus 1967, sang ibu mengembuskan napasnya yang terakhir. Jauh-jauh hari sang ibu sudah berpesan, “Jangan lupa ya, kalau aku meninggal, tolong jenazahku ditutupi dengan selimut yang pernah dipakai Pierre.” Tampaknya sang ibu benar-benar terpukul dan tidak akan pernah terima dengan kematian putra semata wayang tercintanya itu.

Hal yang sama juga dirasakan oleh sang kekasih, Rukmini. Padahal, beberapa minggu setelah peristiwa nahas itu terjadi, mereka berdua akan menjadi pengantin. Butuh waktu 5 tahun bagi Rukmini untuk move on hingga akhirnya mencari pengganti Pierre. Sang kakak, Mitzi, dan sang adik, Roos, juga masih sering mengenang saudara laki-laki tercinta mereka itu. Mitzi masih ingat hadiah ulang tahun pemberian Pierre berupa raket bulu tangkis, dan saat itu Pierre berpesan “Ojo dijual yo mbak (Jangan dijual ya kak”. Dan benar, raket pemberian adik tercintanya itu masih disimpan baik oleh Mitzi hingga sekarang ia tua. Sang adik, Roos juga masih selalu mengenang pesan terakhir kakaknya ketika Roos menikah, Pierre berkata pada suami Roos “Aku titip adikku ya, tolong jaga baik-baik”.  Memang karena Pierre adalah orang yang baik, maka kenangan semasa hidupnya memang sulit rasanya untuk dilupakan bagi orang-orang sekitarnya.

Pada tanggal 5 Oktober 1965, Pemerintah menghargai pengabdian Pierre kepada bangsa dan tanah air. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. III/Koti/tahun l965, Pierre Andries Tendean ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi. Pangkatnya dinaikkan secara anumerta menjadi kapten. Selain itu ia juga menerima penghargaan berupa Satya Lencana Saptamarga.

Kisah Pierre Tendean sangat patut untuk kita teladani. Mulai dari sikap rendah hati tanpa memandang status, jabatan, dsb, kesetiaan kepada kekasihnya meskipun semasa hidupnya sudah banyak wanita yang mendekatinya, dan juga loyalitas tinggi dan pengabdiannya sebagai ajudan, hingga rela mengorbankan nyawa.

Saya pribadi berharap, semoga untuk kedepannya, peristiwa-peristiwa kelam seperti ini tidak terulang lagi di negeri ini, mengingat saat ini Indonesia juga sedang mengalami berbagai permasalahan dan kericuhan.. Namun saya sangat berharap, semoga banyak Pierre-Pierre lain yang bermunculan di Indonesia, dengan meneladani sifat dan keteladanan Pierre semasa hidupnya yang sangat pantas untuk ditiru. Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi inspirasi untuk kita semua!

 

 

 

 

[zombify_post]

Previous articleTernyata Ada 4 Manfaat Gosip Nih Buat yang Hobi Ngegosip!
Next articleTernyata Lansia juga masih butuh olahraga loh! Berikut 4 Olahraga yang cocok untuk Lansia!