Pantesan Lama Nganggur, 7 Ciri-Ciri CV Yang Bikin HRD Malas Baca

Di era seperti sekarang ini, ada banyak penganggura karena mmemang mencari pekerjaan bukan sesuatu yang mudah, terlebih bagi yang para fresh graduate alias para lulusan baru yang belum punya banyak pengalaman kerja atau kenalan.

Meski begitu, kamu kudu harus tetap semangat mencari kerja dan berusaha semaksimal mungkin, jangan ngoyo. Nah, salah satu yang kebanyakan salah dipahami para pelamar kerja adalah ketika membuat Curriculum Vitae (CV) namun ternyata dianggap tidak menarik untuk dilihat perekrut kerja.

Oleh karena itu, untuk kamu semua yang sedang sibuk mencari kerja di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini, sebaiknya baca baik-baik artikel dibawah ini sebelum kamu mempersiapkan CV, karena jangan sampai hanya karena beberapa kesalahan, semua dokumen yang kamu kirim tidak dilirik oleh HRD.

Terlalu Umum

Pandemi Corona memang membuat cari kerja jadi lebih susah. Kamu mungkin sudah membuat beberapa kopian CV untuk ditujukan ke berbagai perusahaan tapi jangan isinya sama atau umum. Meski lowongan yang ditawarkan perusahaan-perusahaan itu hampir sama, kamu tetap perlu membuat personalisasi.

Misalnya dengan menuliskan kamu mau bekerja di perusahaan tersebut dan apa yang kamu tahu mengenai budaya atau produknya. Dengan begitu, perekrut atau HRD lebih tertarik untuk memanggil kamu.

Banyak Bumbu-bumbu

Kesalahan umum lain yang sering dibuat dalam CV adalah kalimat yang terlalu berbumbu. Maksudnya ingin terkesan berkualitas, banyak pelamar malah seperti membual ketika mendeskripsikan diri mereka.

Tak jarang pula, para pelamar kerja menggunakan deskripsi yang ketinggalan zaman sehingga membuat HRD kurang tertarik untuk membaca selengkapnya.

Misalnya saat pelamar mengatakan bahwa mereka pekerja keras atau bermotivasi tinggi. Dari pada itu, coba tonjolkan keunikan kamu, seperti bisa multitasking atau menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kemampuan itu lebih masuk akal untuk dipercaya HRD.

Banyak Typo

Jangan sampai Curriculum Vitae (CV) yang kamu berikan banyak salah eja, apalagi yang terkait hal-hal penting seperti jabatan yang dilamarkan, nama orang, atau perusahaan. Kemampuan menulis sekaligus ketelitian adalah beberapa hal dasar yang banyak dicari perusahaan.

Tak heran jika HRD atau calon manajer akan langsung mendiskualifikasi lamaran bahkan jika sebenarnya kamu termasuk pelamar potensial lho.

Format Berantakan

Sebelum menulis CV ada baiknya untuk melihat beberapa referensi terlebih dahulu. Apalagi untuk kamu yang masih belum memahami atau familiar bagaimana contoh CV buat para fresh graduate yang baik dan benar.

Kalau bisa, kamu buatlah Curriculum Vitae dengan format yang singkat, runtut, dan tidak kuno. Belakangan HRD atau perekrut lebih suka dengan CV yang pendek namun memuat semua potensi si pelamar. Tapi jangan tampak seperti CV ‘template’ yang ada di internet ya.

‘Celah’ yang Tidak Dijelaskan

Beberapa orang mungkin punya ‘gap’ dalam kariernya karena alasan tertentu. Meski CV seharusnya singkat, sebaiknya pelamar menjelaskan mengapa ia sempat berhenti bekerja untuk waktu yang cukup lama.

Jangan sampai perekrut atau HRD menganggapnya sebagai hal yang negatif. Apalagi jika alasan kamu berhenti bekerja untuk melakukan hal-hal yang baik, seperti menjadi voluntir (relawan) atau melanjutkan studi.

Kelewat Detail

Kesalahan CV lainnya yang sering dibuat oleh para pelamar kerja khususnya yang fresh graduate asal universitas, SMA, atau SMK adalah dokumen yang terlalu detail.

Sebenarnya kamu tidak perlu membuat CV panjang-panjang apalagi sampai lebih dari dua halaman. Tinggalkan detail-detail yang kurang penting seperti riwayat sekolah sejak TK, riwayat pekerjaan magang atau pelatihan yang tidak berkorelasi dengan perusahaan atau jabatan, hingga pemintaan gaji.

Kurang Menjual Diri

Curriculum Vitae (CV) sebaiknya bukan hanya memuat riwayat hidup tapi juga kemampuan kamu yang benar-benar bisa digunakan perusahaan yang kamu lamar.

Pastikan kamu mendeskripsikan diri sebagai seseorang yang mungkin mereka butuhkan tetapi tentu jangan berlebihan. Masukkan pengalaman kerja atau pelatihan yang memang berkaitan dan membuat kamu bakalan dianggap cocok untuk setidaknya mengikuti sesi wawancara atau interview