Percaya atau Tidak.. Inilah Potret Manusia Buaya Satu-Satunya Di Dunia

262

Di Papua Nugini ada suku Chambri yang unik dan dijuluki traveler sebagai manusia buaya. Kulit mereka disayat membentuk sisik buaya, untuk menandakan kedewasaan dan penghormatan kepada buaya sebagai leluhurnya/

Sama seperti suku-suku di Papua (karena masih satu daratan), Papua Nugini memiliki banyak suku dengan tradisi yang aneh nan unik. Beberapa tradisinya mungkin terlihat menyakitkan, tapi bagi mereka tidak karena sudah dilakukan secara turun temurun.

Nah salah satu suku di Papua Nugini yang punya tradisi khas adalah suku Chambri. Mereka mendiami daratan di sekitar Danau Chambri, Provinsi Sepik. Jika dilihat dari peta, posisinya ada di utara Papua Nugini dan bisa ditempuh naik pesawat selama 2 jam dari ibukota Papua Nugini, Port Moresby.

Suku Chambri sehari-harinya hidup sebagai pemburu binatang, seperti babi dan juga memancing ikan bagi kaum pria, serta berkebun bagi para wanita. Kehidupan mereka disana masih sangat sederhana. Listrik saja belum masuk ke pemukimannya.

Lalu apa tradisi khas suku Chambri? Tradisi khas sukunya dilakukan hanya oleh kaum pria. Tak main-main, tradisi itu adalah menyayat badan dan membentuk kulit di badannya menjadi menyerupai sisik buaya yang menonjol-nonjol.

Ceritanya begini, di sekitar tempat tinggal suku Chambri di danau Chambri dan sungai Sepik masih banyak buaya yang hidup. Ada dua jenisnya, buaya Papua Nugini dan buaya muara. Ukurannya besar-besar, dari 4 meter sampai 7 meter.

Bagi suku Chambri, buaya adalah hewan yang sangat diagungkan. Sebab, mereka percaya bahwa leluhur mereka dulunya adalah buaya yang berevolusi ke daratan dan berubah jadi manusia. Mereka pun sangat menjaga kehidupan buaya dan tidak memburunya.

Tradisi menyayat badan dan membentuk kulit di badan menyerupai sisik buaya sudah dilakukan sejak zaman dulu. Tradisi ini merupakan suatu tanda seorang pria sudah menjadi dewasa. Biasanya mulai dilakukan jika si anak memasuki usia 11 tahun hingga 25 tahun.


Yang menyayat adalah kepala suku. Mereka disayat pun harus siap menahan sakit tak terperih kala pisau mulai mencabik-cabik kulit mereka. Kabarnya, tak sedikit pria disana meninggal karena kehabisan  darah dan tidak tahan dengan rasa sakitnya.

Namun, menyayatnya juga tidak sembarangan. Ada ritual tarian dan doa-doa sebelum kepala suku mengambil pisau dan mulai melakukan tugasnya. Adapun arti dari tradisi ini adalah pertama sebagai wujud penghormatan kepada leluhur suku Chambri yang dipercaya adalah buaya. Kedua, tradisi ini menandakan kedewasaan seorang pria, dan ketiga, dipercaya akan membuat para pria suku Chambri jadi orang yang kuat karena bisa melawan rasa sakitnya.

Hmm, ada yang tertarik ingin jadi manusia buaya seperti suku Chambri?

[zombify_post]

Previous article5 Pelajaran Penting tentang Perjuangan dari Jack Ma Orang Terkaya di China
Next article3 Tahap Mengenalkan Pendidikan Seks pada Anak