Review ‘Susi Susanti: Love All’ (Film Inspirasi Untuk Kaula Muda)

310

foto: indosport.com

Susi Susanti: Love All adalah sebuah film Indonesia mendatang yang mengisahkan perjalanan hidup atlet bulu tangkis putri Indonesia. Susi Susanti berhasil meraih medali medali emas di Olimpiade Musim Panas 1992 Barcelona. Film ini diproduksi oleh Damn! I Love Indonesian Movies yang bekerjasama dengan Oreima Films dan East West Synergy dengan produser Daniel Mananta dan Reza Hidayat. Film yang disutradarai oleh Sim F ini dibintangi oleh Laura Basuki sebagai Susi Susanti dewasa dan Dion Wiyoko sebagai Alan Budikusuma. Film ini sudah tayang di bioskop kesayangan kamu mulai hari ini, 24 Oktober 2019.

Di bawah asuhan pelatih legendaris Tong Sin Fu dan Liang Chu Sia, Susi bersaing dengan atlet berbakat lain seperti Ardy B. Wiranata, Hermawan Susanto, Sarwendah, hingga bertemu dengan Alan Budikusuma yang kelak menjadi suaminya.

foto: Dok. Tim Internasional Films

Adegan romantis antara Susi Susanti dan Alan Budikusuma disajikan dengan porsi yang cukup, sehingga esensi perjuangan Susi Susanti sebagai atlet tetap menjadi sajian utama film ini.

Selain kisah cinta Susi Susanti, konflik di dalam keluarga dan konflik pribadi yang dialami oleh Susi juga digambarkan dengan cukup kuat dalam film.

Kelebihan lainnya terdapat pada momen-momen ketegangan dalam pertandingan badminton digambarkan dengan baik. Sudut pandang Susi Susanti sebagai atlet juga diterjemahkan dengan baik dalam filmnya berkat akting Laura Basuki yang sungguh apik.

Karakter-karakter pendukung yang ada dalam film ini juga mendapat porsi dan pengembangan karakter yang baik dari awal hingga akhir film. Karakter pendukung menjadi penambah humor dalam film ini hingga memmbuat film semakin menghibur.

foto: medcom.id

Meski begitu, film ini tetap tak terhindar dari kekurangan. Plot film ini dibuat cukup simple dan dengan alur yang maju, tanpa sentuhan plot twist.

Tone dalam film ini sudah disesuaikan dengan nuansa Indonesia, khususnya Jakarta pada tahun 1980-an dan 1990-an, namun tetap ada kesalahan pada salah satu gambar di adegan yang ada.

Namun kesalahan minor tersebut dapat dimaafkan mengingat sangat sulit untuk membuat potret Jakarta pada tahun 80-an dan 90-an dengan wajah Jakarta yang sudah sangat jauh berbeda pada saat ini.

Tim produksi film sudah berusaha untuk menutup wajah Jakarta saat ini dengan angle kamera yang low angle. Meski pada akhirnya kesalahan tetap sulit dihindari.

Selain itu, audio di beberapa adegan awal film ini terasa tumpang tindih sehingga ada dialog yang tidak terdengar dan cukup menganggu.

[zombify_post]

Previous article10 manfaat infused water yang gak hanya bikin langsing, tapi bikin sehat juga lho!
Next article5 Amalan Istimewa di hari Jum’at yang Akan Membuat Harimu Menjadi Berkah!