Simak Mitos dan Fakta Menarik Seputar Jaringan 5G

76
Mitos dan Fakta Menarik Seputar Jaringan 5G
Photo By: diskusiguru.com

Simak Mitos dan Fakta Menarik Seputar Jaringan 5G – Jaringan generasi kelima yaitu 5G akhirnya telah resmi digelar di Indonesia. Telkomsel menjadi operator seluler pertama yang menyediakan jaringan 5G pertama di Tanah Air secara Komersial.

Untuk menggelar 5G, pihak Telkomsel menggunakan pita frekuensi 2.300 MHz untuk data plane dan pita frekuensi 1.800 MHz untuk control plane.

Kehadiran jaringan 5G ini dinilai penting karena dapat membantu dalam proses perkembangan industri dari beragam aspek.

Mulai dari komersial seperti internet of things (IoT) hingga proyek smart city. Walaupun ada memiliki hal positif, tetapi kehadiran 5G ini tidak luput dari beragam mitos yang terus muncul.

Nah, berikut ini merupakan mitos dan fakta menarik seputar 5G yang dilansir dari kompas.com, di antaranya adalah:

5G Menyebarkan Covid-19

Mitos terkait Covid-19 memang banyak beredar di Internet. Salah satunya menyebutkan bahwa Covid-19 menyebar melalui jaringan 5G.

Mitos tersebut kemudian ditepis oleh WHO. WHO menegaskan bahwa Covid-19 hanya dapat menyebar melalui batuk, bersin, serta droplet ketika seseorang yang terinfeksi berbicara, bukan melalui 5G seperti mitos yang beredar.

Karena faktanya, Covid-19 juga tetap menyebar di negara-negara yang belum menyediakan 5G

5G Merusak Jaringan Otak

Untuk menggelar 5G, ada dua jenis jaringan yang  bisa digunakan, yaitu Sub-6GHZ dan mmWave. Beredar beberapa mitos terkait kedua jaringan itu.

Salah satunya adalah menyebutkan bahwa jaringan 5G berpotensi membakar jaringan otak manusia, mitos ini datang dari teori yang dikemukakan oleh seorang fisikawan.

Memaparkan bahwa gelombang pada frekuensi tinggi dapat mempercepat kinerja otak dalam menyerap gelombang tersebut secara ekstrem. Tentu saja hal ini menimbulkan kekhawatiran akan risiko kesehatan manusia.

Baca juga : Menjadi Operator Pertama Indosat Ooredoo Segera Hadirkan 5G di Indonesia

Namun. Teori ini dipatahkan oleh banyaknya uji coba yang telah dilakukan beberapa tahun setelahnya.

Faktanya, Paparan jaringan nirkabel 5G tidak menimbulkan efek kesehatan yang merugikan jika paparan ini masih dalam batas yang direkomendasikan.

Hal ini ditegaskan oleh pihak otoritas kesehatan di Jerman, Finlandia, dan Norwegia.

5G Belum Dibutuhkan

Mitos ini sangat bertolak belakang dengan fakta kehadiran 5G sebagai solusi atas tingginya konsumsi data seluler saat ini.

Setiap tahunnya, tercatat konsumsi data seluler mengalami peningkatan sebanyak 40%. Maka Dari itu,  5G hadir dengan tujuan untuk memberikan layanan jaringan yang lebih baik lagi.

Bahkan 5G disebut-sebut mampu menyediakan kecepatan hingga 20 kali lebih cepat dibanding 4G. 

5G Akan Menggantikan 4G

Walaupun 5G memiliki peningkatan dari 4G, tidak berarti 4G akan tergantikan dengan 5G.

Hal ini disebabkan karena 5G dibangun di atas 4G itu sendiri, dengan menggunakan radio dan perangkat lunak yang telah diperbaharui.

Selain itu,  penggunaan 4G masih akan banyak digunakan khususnya di wilayah pedesaan. Sebab, infrastruktur 5G masih berfokus pada wilayah perkotaan

5G Bisa Membunuh Burung

Mitos ini beredar pertama kali ketika Pengguna Facebook bernama Tim Emsile mengunggah di sosial media pada tahun 2020.

Unggahan tersebut mengklaim bahwa 5G merupakan penyebab kasus kematian yang menimpa ratusan burung di Belanda.

Dirinya juga mengunggah foto ratusan burung yang mati di sebuah jalan raya. Emsile menduga bahwa kejadian yang janggal tersebut disebabkan oleh jaringan 5G yang baru saja dibangun di sisi lain tempat kejadian.

Faktanya, unggahan tersebut merupakan hasil rekayasa dirinya sendiri. Foto ratusan burung mati tersebut merupakan foto dari insiden yang terjadi 2019 di Anglesey, Wales.

Burung-burung tersebut mati karena menabrak dan melukai diri mereka sendiri di semak-semak terdekat.

Previous articleDrama Korea Terbaru Juni 2021 Yang Paling Ditunggu
Next articleNadiem Imbau Seluruh Pemda Segera Buka Sekolah Terbatas